Rabu, 02 Desember 2015

Tour de Sarangan 2 (Tawang Mangu)


Berselang 2 minggu dari tour 1, kali ini saya bersama lebih banyak teman lagi kembali ke Sarangan. Berhubung dari kami ada yang akan balik ke Jakarta maka sebut saja ini 'farewell party". Berdelapan kami berangkat ke sarangan, berhubung ini yang kedua, maka mobil dan penginapan sudah kita pesan terlebih dahulu by phone. Biaya yang kami perlukan hampir sama, hanya sewa mobil menjadi 150.000, maklum kami berdelapan sekarang. Dengan waktu yang hampir sama kami tiba di Sarangan sekitar pukul 21.000 dan langsung penginapan. Setelah sholat isya dan mandi, kami berjalan ke arah telaga untuk makan malam, masih dengan menu yang sama : sate kelinci dan wedang ronde, kali ini ditambah jagung bakar. Setelah makan kami langsung ballik kepenginapan, dan tidur.

Pagi harinya, kami baru berwisata ke Sarangan, berkeliling, sarapan dan naik speed boat yang tidak saya coba saat kunjungan pertama.



Puas menikmati suasana telaga Sarangan yang mulai ramai, kami beranjak ke destinasi berikutnya "Tawang Mangu". Tawang Mangu masih berada di lereng Gunung Lawu, tetapi berada di lereng sebelah Barat, tepatnya masuk ke daerah Karang Anyar, Jawa Tengah. Menuju ke Tawang Mangu dari Sarangan dapat ditempuh dengan melintasi gunung lawu lewat cemoro sewu, pintu masuk pendakian ke Gunung Lawu yang sempat terbakar. Dengan menyewa angkutan umum seharga 600.000 kami akan diantar samapi pulang ke Cepu. Saat kami lewat ke cemoro sewu, pintu gerbang tersebut masih dikunci, akibat dari kebakarna yang merenggut nyawa par apendaki beberapa waktu yang lalu.



Setelah dari cemoro sewu jalanan mulai menurun, landscape yang indah, membuat perjalanan ini sangat menyenangkan.Tiba di Tawang Mangu kami memilih masuk melaui pintu 2 karena lebih dekat dengan lokasi Grojogan Sewu. Suasana yang cukup ramai mulai terasa saat kami memasuki area wisata. Perut yang sudah lapar meminta diisi akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di situ, dengan menu yang hampir sama dengan di Sarangan, ada sate ayam, sate kelinci dan popmie.




Sebelum pulang, kami berleyeh leyeh dulu di tengah hutan, kapan lagi bisa tidran di alam bebassss!

Kamis, 26 November 2015

Tour De Sarangan 1

Sabtu sore itu, bertiga saya dengan teman satu proyek memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan ke Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur. Perjalan di mulai dari pertigaan Padangan, Bojonegoro selepas turun dari bis angkutan karyawan proyek yang menuju Cepu. Dari padangan kami naik bis tanggung jurusan Ngawi, turun di terminal lama Ngawi dengan ongkos 15.000 /orang. Dari Ngawi kami naik bis jurusan Madiun turun di terminal Maospati dengan membayar 6000/orang. Sampai di Maospati sekitar jam 19.30, sudah tidak ada angkutan umum menuju Magetan. Oleh karena itu, kami menyewa mobil seharga 100.000 langsung ke Telaga Sarangan (cukup murah untuk kami bertiga). Sekitar 1 jam perjalan kami menanjak ke lereng gunung lawu tersebut. Sampai di Telaga Sarangan suasana lumayan rame, mungkin karena malam minggu.
Sampai di Sarangan tidak lupa foto terlebih dahulu di tugu selamat datang "Lake To Remember"


Menikmati susana sarangan tidak lengkap tanpa makan sate kelinci dan wedang ronde yang dijajakan sekeliling telaga. Setelah puas berkeliling dan makan malam, kami memutuskan untuk mencari penginapan, banyak penginapan yang ditawarkan, dan kamipun pilih yang paling murah 150.000/malam untuk satu kamar dengan 2 bed ukuran double.
View malam depan penginapan

Paginya sehabis sholat subuh,kami berjalan keluar untuk mulai berpetualang di telaga sarangan. Manikmati pagi...yah waktu pagi..waktu yang selalu saya rindukan.

View pagi depan menginapan

Senyap Sejenak

Membelakangi Gunung Lawu
Puas mengelilingi Sarangan, kami mengarahkan langkah menuju air terjun yang ada dilokasi sekitar Sarangan, kurang lebih 1,5 km menanjak.

Jalan Menuju Air Terjun

Satu satunya foto kami bertiga

Terapi

Melukis Pelangi

Tingginya....

Setelah puas mandi di grojokan dan perut keroncongan akhinya kami balik ke penginapan, mandi dan pulang ke Cepu ( Sarangan -magetan : 15000, magetan - madiun: 6000, madiun-ngawi: 6000 dan ngawi-cepu: 15000).

Sepenggal Cerita di Cepu


Hampir 9 bulan ini,saya ditugaskan kantor untuk bekerja di lapangan Banyu Urip, Bojonegoro. Tapi bukan tentang pekerjaan itu yang ingin saya ceritakan disini, melainkan tentang kehidupan saya sehari hari disana diluar jam kerja. Selama bertugas di Bany Urip, saya menempati mess di kecamatan Cepu, kab Blora bersama 14 teman satu kantor.
Setiap hari dari senin samapi sabtu kami berangkat dari mess pukul 05.30 dan kembali ke mess jam 17.30. Kami hanya dapat jatah libur 1 hari di hari minggu, itupun setiap 2 minggu sekali saya pakai untuk pulang ke bekasi, praktis hari minggu di cepu saya pakai untuk mengelilingi cepu dan pergi ke kota terdekat seperti blora dan semarang (sayang belum sempat ke surabaya).
Stasiun Cepu
Setiap minggu pagi saya sempatkan untuk bersepada keliling cepu, baik sendiri maupun bersama teman satu mess. Kemudian, berjalan jalan kekota terdekat.

Lawang Sewu, Semarang

Musium Kereta di Lawang Sewu

Salah satu view jalur sepeda di Cepu
Cepu berada ditepian sungai Bengawan Solo
Sebelum meninggalkan Cepu awal november kemarin, kami sempatkan untuk ber"backpacker"an ke Sarangan dan Tawang Mangu ( bersambung).

Rabu, 25 November 2015

Pendakian Ke Papandayan (2)

Pagi hari kedua, kami berombongan akan mememulai pendakian ke puncak papandayan. Rute pertama yang kami lewati adalah kawah papandayan. Kawah papandayan terletak sangat dekat dengan camping ground base camp.





Tujuan kami langsung ke pondok salada untuk bermalam lagi disana, perjalanan ke pondok salada ini cukup menguras energi, terutama bagi "orang tua" kaya kami yang jarang olahraga apalagi naik gunung. Tiba di pondok salada kami langsung mendirikan tenda dan bersiap untuk menuju tegal alun setelah makan dan sholat dzuhur.

 Kondisi cuaca yang buruk,dan hujan yang lebat membuat perjalan ke tegal alun ini jadi melambat, banyaknya anggota rombongan membuat antrian di tanjakan mamang jadi sangat panjang. Alhasil, baru mau sampai tegal alun dan baru melewati tanjkan mamang sudah disruh turun kembali.....sedih..., padahal tinggal selangkah lagi. Selain karena hari sudah masuk senja dan banyak yang sudah kedinginan di tegal alun maka semua harus turun. Alhasil dengan kecewa saya turun kembali ke kawasan hutan mati, cukuplah foto disitu..hihihi...


Satu yang saya suka dari papandayan meski tidak begitu tinggi, tapi banyak edelweis yang tumbuh dan bermekaran.

dan, sampai di pondok salada, ternyata banjir sodara -sodara, ...
dan tendapun harus diangkat ..hehehee..
Setelah bermalam semalam di pondok salada, paginya kami turun untuk kembali ke parkiran dan langsung balik bekasi.--end---






Pendakian ke Papandayan

Bukan Indonesia kalau tidak indah....
Malam itu..
Kami serombongan warga bekasi timur, memulai perjalan ke garut jam 21.00 dari halaman masjid Amar Ma'ruf, bekasi timur. Bermobil kami berlima memulai perjalan dengah harapan sampai tujuan dengan selamat, melintas bekasi-cikampek-bandung-garut. Perjalan malam yang sungguh menegangkan karena kami sempat keluar jalur dan tersesat. Hujan yang turun deras dan jalan yang takkunjung menemui titik terang membuat kami untuk memutuskan kembali kejalur awal, ke nagrek. Sampai nagrek kami ambil jaur ke kiri melewati jalur alternatif, alhamduliilah, imilah jalur yang benar sesuai petunjuk saat pemberangkatan tadi.
Dini hari menjelang subuh kami sampai di kaki gunung Papandayan, berhenti sejenak untuk sholat subuh di sebuah mushola di pinggir jalur ke puncak papandayan. Saat pagi mulai merekah kami sudah tiba di pintu masuk pendakian papandayan.

Hari pertama kami lewati dengan membangun tenda, dan materi materi survival, sholat jumat di tengah derasnya hujan, ah..kenangan yang tak terlupakan.



Menghabiskan semalaman waktu di bumi perkemahan cukup menenangkan, meski ada isu babi hutan yang keluar dan menggangu para pekemah, tetapi semua terlewati dengan aman. Pagi harinya kami bongkar tenda untuk melanjukan pendakian ke puncak papandayan. (bersambung)


Selasa, 24 November 2015

2 th dalam perjalanan....(singapura, 2014)

Terakhir posting di blog ini sekitar 2 tahun lalu...2013

Pagi selalu meninggalkan cerita..suka..duka..entah apa lagi. Setiap perjalan dalam dua tahun ini selalu dimulai dari pagi, pagi yang cerah, pagi yang berawan atau pagi yang berhujan.

Perjalanan ke Singapura, pertengahan  2014


Pagi buta jam 03.30 aku sudah bersiap berangkat menuju bandara soekarno hatta, menjemput seorang teman sebut saja Rum terlebih dahulu di pancoran untuk bersama berangkat ke bandara. Jalanan masih lengan sehingga lancar sampai bandara yang sudah di tunggu oleh dua teman yang lain Anton dan Herry. Sempat sholat subuh dahulu di bandara kemudian minum secangkir coklat panas.
Pesawat berangkat jam 6 pagi dan sampai bandara singapura jam 9.

 Perjalan dilanjutkan dengan naik MRT menuju Merlion sebagai iconnya singapura, istilahnya belum ke singapura jika belum ke patung singa merlion.


Perjalan kemudian mengarah ke penginapan  di fragrance hotel waterfront.



Malamnya kami sempatkan untuk makan durian di Lor 21 Geylan, pusat durian enak di singapura dan tentu sebelumnya mengunjungi pusat perbelanjaan Orchard Road.



Pagi harinya kami habiskan waktu untuk mengunjungi Sentosa Island "Universal Studio"








Dan sorenya kami kembali ke Jakarta...Berlanjut ke "Pendakian Papandayan".....

Minggu, 17 November 2013

SEKOLAH PARA BINATANG


Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.

Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.

Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam

Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak

Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;

Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.

Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.

Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.

Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.

Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.

Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya;

perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.

Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah.

Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing.

Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?

By Thomas Amstrong 1990
Modify by Ayah Edy 2003

Keluarga Indonesia yg peduli pendidikan anak bangsa,

Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya.

Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.

Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga.

Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?

1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menhafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya

Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan.

Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja.

Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia.

Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap.

Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa.

Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).

Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya.

Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang.

Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.

Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?

Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.

Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?

Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?

Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal.

Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda.

Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam.

Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.

Apa beda mendidik dengan mengajar...?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.

Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan.

Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.

Mari kita renungkan bersama !

by ayah edy